5 Hal Unik di Olimpiade Tokyo 2020

Olimpiade Tokyo tahun 2020 yang digelar pada tahun 2021 ini terdapat sejumlah penyesuaian dan hal-hal baru sehubungan dengan kondisi Pandemi Covid-19 yang masih mewabah di dunia.

Olimpiade Tokyo 2020
Olimpiade Tokyo 2020

Olimpiade Tokyo 2020

Diantaranya yakni adanya kewajiban untuk menjalani karantina bagi semua atlet dan official yang tiba di Jepang, selain itu Olimpiade kali ini juga relatif sepi karena adanya pembatasan penonton, baik di tiap pertandingan/ perlombaan maupun di upacara pembukaan dan penutupan Olimpiade. Semua pihak yang terlibat dalam Olimpiade kali ini juga dibatasi mobilitasnya selama di Jepang untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Disamping hal tersebut juga terdapat beberapa hal unik dalam pelaksanaan Olimpiade kali ini. Apa sajakah itu ? yuk simak Info Santai berikut ini.

1 Bahan baku medali terbuat dari campuran bahan daur ulang

Sobat, medali yang dikalungkan kepada para juara pada Olimpiade Tokyo kali ini memilki desain menarik dan mengandung makna filosofis mendalam. Medali Olimpiade Tokyo 2020 di desain oleh Junichi Kawanisi yang memenangkan kompetisi terbuka yang digelar oleh penyelenggara Olimpiade Tokyo. Tema keseluruhan dari medali yang di desain oleh Kawanisi adalah cahaya dan kecemerlangan.

Medali tersebut mengusung konsep perjuangan para atlet yang digambarkan seperti sebuah batu kasar yang dipoles menjadi bersinar. Maksud dari konsep ini adalah setiap atlet yang bertanding harus berjuang sekuat tenaga untuk mencapai kejayaan.

Selain desainnya yang menarik dan filosofis, medali dalam Olimpiade Tokyo 2020 ini ternyata terbuat dari bahan baku daur ulang yang ramah lingkungan. Jenis bahan daur ulang tersebut berasal dari sampah ponsel dan perangkat elektronik lainnya yang dikumpulkan sejak tahun 2017. Dari para sukarelawan dari seluruh Jepang tersebut berhasil mengumpulkan lebih dari 5 juta ponsel dan perangkat elektronik lainnya, seperti kamera, gameboy, playstation, dan sebagainya.

Pengumpulan tersebut diawali dengan proses ekstraksi logam dari beragam sampah elektronik tersebut. Kemudian ekstraksi logam tersebut dilebur dengan bahan medali lainnya seperti emas, perak dan perunggu sesuai dengan kadar yang telah ditentukan.

Inovasi ini banyak menarik perhatian dunia, sebab sebagaimana diketahui, Jepang merupakan pusat industri teknologi dunia yang tiap tahunnya menghasilkan jutaan produk teknologi. Sementara itu penduduk Jepang terkenal dengan kepeduliannya terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Hal ini sesuai dengan slogan Olimpiade Tokyo 2020 yakni “Be Better Together, For The Planet and The People”

2 Tempat Tidur Atlet Terbuat dari Bahan Kardus

Masih soal faktor ramah lingkungan nih sobat, bukan Jepang namanya kalau bukan mengedepankan lingkungan dan energi terbarukan. Kali ini ada fakta unik mengenai tempat tidur para atlet peserta Olimpiade 2020 yang ternyata terbuat dari bahan kardus yang ramah lingkungan.

Sebelumnya sempat viral di media sosial setelah adanya unggahan dari atlet lari jarak jauh asal Amerika Serikat, Paul Celimo. Dalam unggahan di twitter pribadinya, Paul menggambarkan kondisi kamarnya di wisma atlet yang disediakan oleh penyelenggara Olimpiade Tokyo, ternyata tempat tidur yang digunakannya terbuat dari kardus.

Menurut Paul dalam cuitannya, kasur tersebut sengaja dibuat dari kardus untuk menghindari para atlet melakukan seks bebas antara sesama atlet selama di wisma atlet. Paul juga berpesan agar para atlet jangan membasahi tempat tidur yang terbuat dari kardus tersebut sebelum Olimpiade berakhir agar tempat tidurnya tidak rusak. Cuitan Paul tersebut kemudian viral dan diretweet sebanyak 5 ribu kali serta mendapat like sebanya 27 ribu kali dari pengguna twitter.

Atas hebohnya kasus tersebut, penanggung jawab wisma atlet Olimpiade kemudian memberikan klarifikasi bahwa tempat tidur tersebut sengaja dibuat dari kardus agar tahan lama dan tetap bisa memberikan kenyamanan bagi para atlet. Menurutnya alasan kasur tersebut dibuat dari bahan kardus agar kasur tersebut bisa di daur ulang kembali menjadi produk kertas usai olimpiade berakhir. Pihaknya juga memastikan bahwa kardus tersebut kuat menopang beban tubuh para atlet hingga lebih dari 200 kilogram.

3 Atlet Rusia Dilarang Bertanding Dengan Bendera dan Lagu Kebangsaan Rusia

Russia merupakan salah satu kekuatan besar dalam tiap penyelenggaraan Olimpiade, namun dalam penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 kali ini Russia diboikot untuk mengikuti Olimpiade. Hal ini merupakan imbas dari kasus dopping yang terkuak tahun 2014 silam. Kasus berawal dari penyelidikan dari badan independen terakit dugaan pelanggaran terhadap peraturan yang dibuat oleh World Anti Dopping Association (WADA).

Dalam penyelidikan tersebut, pihak otoritas Russia terbukti telah memanipulasi data laboratorium Moskow untuk mengaburkan fakta dalam penyelidikan. Akibat kejadian ini WADA mengajukan hukuman selama 4 tahun larangan bertanding bagi kontingen Rusia dan larangan untuk menjadi tuan rumah selama 2 tahun. Namun usulan tersebut hanya disetujui setengahnya oleh Badan Arbitrase Olahraga Internasional, sehingga atlet Russia masih bisa bertanding di Olimpiade Tokyo 2020 namun tidak atas nama negara Russia.

Dalam gelaran Olimpiade Tokyo 2020, Rusia berhasil mengirimkan sebanyak 330 atlet. Namun demikian, sehubungan sanksi yang diterima Rusia, maka negeri beruang merah tersebut dilarang untuk menggunakan bendera, lambang negara dan lagu kebangsaannya. Sebagai gantinya, para atlet dari Rusia tersebut bertanding atas nama ROC yang merupakan kepanjangan dari Russian Olympic Comitee, dan ketika atlet asal Rusia berhasil meraih medali emas, maka lagu yang dikumandangkan bukan lagu kebangsaan Rusia, melainkan lagu baru karya komposer bernama Tchaikovsky yang sebelumnya telah disepakati oleh ROC.

Bendera yang digunakan oleh kontingen Rusia kali ini berupa sebuah bendera berlatar belakang putih dengan gambar api olimpiade berwarna merah, biru dan putih yang merepresentasikan bendera Rusia, dan sebuah logo Olimpiade berupa lima cincin berwarna merah, kuning, hijau, biru, dan hitam.

4 Olimpiade dengan Beragam Teknologi Canggih

Jepang memang terkenal dengan kemajuannya di bidang teknologi, negeri sakura tersebut dikenal dunia sebagai pusat teknologi dunia. Beragam teknologi canggih dan inovasi baru selalu hadir dari negara tersebut. Sebagai tuan rumah perhelatan Olimpiade kali ini, Jepang juga turut memanfaatkan kemajuan teknologinya untuk menunjang pelaksanaan Olimpiade Tahun 2020.

Salah satunya yang terlihat dalam upacara pembukaan Olimpiade yang digelar tanggal 23 Juli lalu. Dalam pembukaan Olimpiade yang digelar di Olympic Stadium Tokyo tersebut, para penonton yang kapasitasnya dibatasi dibuat terpukau dengan pertunjukan cahaya dan penampilan para pengisi acara. Namun ada satu hal yang cukup membuat netizen berdecak kagum, yakni penampilan ribuan drone yang menghiasi langit tokyo malam itu.

Pihak penyelenggara mengungkapkan, sekitar hampir 2000 drone turut ambil bagian di pembukaan Olimpiade Tokyo 2020. Drone tersebut menari-nari diatas Olympic Stadium Tokyo dan membentuk beragam formasi, mulai dari logo olimpiade hingga bola dunia.

Selain dalam acara pembukaan, kecanggihan teknologi dalam gelaran Olimpiade Tokyo juga dihadirkan dalam berbagai hal. Diantaraya yakni sensor dan kecerdasan buatan yang terpasang di beberapa benda, seperti jersey para atlet, bola, dan peralatan lainnya yang digunakan di beberapa cabang olahraga.

Teknologi ini diklaim mampu membantu atlet untuk meningkatkan performa dalam bertanding. Selain itu ada teknologi radar yang digunakan dalam cabang olahraga baseball dan Line Calling dalam pertandingan tenis yang diklaim bisa lebih akurat dalam mendeteksi sebuah bola masuk atau tidak.

Selain itu ada teknologi lainnya yang disediakan penyelenggara, diantaranya yakni pelayanan bagi para atlet di wisma atlet yang akan dibantu dengan sejumlah teknologi robotic, layanan penerjemah otomatis, dan tiket dengan pemindai wajah yang dinilai mampu untuk meningkatkan efisiensi pelayanan selama penyelenggaraan Olimpiade.

5 Google Doodle Hadirkan Game Menarik Untuk Meriahkan Olimpiade

Google Doodle merupakan salah satu fitur dari mesin pencari paling terkenal, yakni Google. Fitur ini bisa ditemukan ketika kita mengakses halaman beranda Google. Pada tampilan beranda biasanya akan muncul gambar menarik pada tulisan Google saat adanya peringatan hari-hari tertentu.

Dalam gelaran Olimpiade Tokyo 2020 kali ini, Google turut memeriahkannya dengan Google Doodle yang bisa dimainkan oleh pengguna internet. Fitur ini lebih menarik dibandingkan Google Doodle lainnya karena ketika di klik akan menampilkan sebuah game dengan alur cerita unik, yakni beberapa permainan olahraga yang dikemas dengan animasi khas tradisional negeri Sakura.

Dalam games ini, pengguna akan memainkan karakter kucing ninja bernama Lucky yang harus menjelajahi pulau juara mengumpulkan gulungan rahasia. Di awal permainan, Lucky harus bergabung dengan salah satu tim yang berwarna merah, hijau, biru, dan kuning yang merupakan warna dari perusahaan Google.

Dalam game ini pemain bisa memainkan sejumlah cabang olahraga, diantaranya yakni memanah, tenis meja, berenang, lompat indah, skateboard, rugbi, dan panjat tebing. Karakter yang diambil dari game ini terinspirasi dari berbagai karakter tradisional dan makhluk mitologi Jepang. Selain itu, games yang merupakan kerjasama antara Google dan salah satu studio animasi ternama asal Jepang ini juga mengambil alur game dari cerita rakyat masyarakat Jepang.

Demikian sobat, beberapa fakta unik seputar Olimpiade Tokyo 2020. Ingat yaa sobat, selalu jaga kesehatan dengan rajin berolahraga. Sebab, di dalam tubuh yang kuat, terdapat jiwa yang sehat. Ayo kita dukung terus perjuangan atlet kebanggaan Merah Putih yang tengah berjuang mengharumkan nama bangsa di ajang Olimpiade Tokyo 2020. Ikuti kami terus untuk informasi terupdate saat ini hanya di Intai ( Info Santai ) https://intai.biz/

Baca Juga:

3 Varian Covid 19 Yang Cepat Menular 

Info Jasa IT Profesional

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *